KembaliFestival

Animasi Indonesia 'Pelangi' Raih Standing Ovation di Festival Internasional

Film animasi Indonesia tentang anak yang lahir di Mars menerima apresiasi global.

Redaksi Tavania5 April 2026

Film animasi Pelangi menjadi bukti nyata kemajuan industri animasi Indonesia yang selama ini berjuang untuk mendapat pengakuan global. Diputar perdana di Festival Animasi Annecy — festival animasi bergengsi paling berpengaruh di dunia — film ini mendapat standing ovation dari penonton internasional yang terkesan dengan kualitas visual dan kedalaman ceritanya. Di antara para penonton itu terdapat eksekutif dari Pixar, Studio Ghibli, dan beberapa rumah produksi animasi besar Eropa.

Pelangi mengisahkan seorang anak yang lahir di koloni Mars namun bermimpi melihat pelangi — sebuah fenomena yang hanya bisa ia saksikan dari rekaman video lama yang tersimpan di server koloni. Cerita ini adalah metafora tentang kerinduan akan tanah air yang universal, dan cara film merentangkan metafora itu dengan kejujuran emosional yang tidak menggurui membuat penonton dari latar belakang budaya yang sangat berbeda menemukan diri mereka ikut menangis.

Tim animator yang terdiri dari tujuh belas anak muda Indonesia — rata-rata berusia 24 tahun — menghabiskan empat tahun dalam proses produksi. Mereka tidak pernah memiliki studio besar, tidak pernah mendapat dukungan dari lembaga perfilman manapun di awal perjalanan mereka. Mereka belajar sendiri melalui komunitas online, riset independen, dan keberanian yang mungkin hanya dimiliki oleh orang yang belum tahu seberapa sulitnya hal yang sedang mereka coba lakukan.

Keberhasilan Pelangi bukan hanya tentang sebuah film. Ia membuka jalan bagi gelombang baru animator Indonesia yang sebelumnya tidak punya alasan untuk percaya bahwa karya mereka bisa berdiri sejajar dengan produksi internasional. Kini mereka punya satu alasan yang sangat konkret.