KembaliFashion

The Devil Wears Prada: Kostum yang Lebih Berbicara dari Dialognya

Patricia Field merancang lebih dari sekadar pakaian — ia membangun karakter. Setiap busana Miranda Priestly adalah kalimat yang tidak perlu diucapkan.

Editorial Tavania5 Mei 2026

Ada adegan di The Devil Wears Prada yang sering dikutip karena dialognya tetapi jarang cukup diperhatikan karena visualnya: Miranda Priestly, dalam gaun Chanel putih yang kaku seperti armor, duduk di meja makan malam sambil memberikan Andy ceramah tentang sebuah sabuk biru. Ceramah itu, yang dimulai sebagai teguran dan berkembang menjadi kuliah filosofi tentang bagaimana fashion mengalir dari runway ke jalan raya biasa tanpa disadari siapapun, adalah salah satu momen terbaik dalam film itu. Tetapi apa yang membuatnya benar-benar bekerja bukan kata-katanya — melainkan kontras kostum antara Miranda dalam putih dinginnya dan Andy dalam sweater hijau bulky yang terasa seperti permohonan maaf yang dikenakan. Patricia Field, costume designer film itu, tahu bahwa setiap pakaian dalam film ini adalah kalimat, dan ia menuliskan percakapan yang jauh lebih kaya dari screenplay.

Field mendekati The Devil Wears Prada (2006) bukan sebagai period piece tentang dunia fashion New York awal 2000-an, tetapi sebagai studi karakter melalui tekstil. Andy Sachs, ketika pertama kali muncul di kantor Runway, mengenakan kombinasi yang tampak seperti seseorang yang secara sadar memilih untuk tidak peduli: celana kotak-kotak, topi kupluk, cardigan yang terlalu besar. Itu bukan pilihan buruk karena Field tidak tahu lebih baik — itu pilihan buruk yang disengaja, karena Andy pada titik itu adalah seseorang yang percaya bahwa ketidakpedulian pada penampilan adalah tanda kecerdasan moral. Transformasinya menjadi Chanel, Valentino, dan Miranda Kerkow bukan peningkatan; ia adalah korupsi yang bertahap — dan Field mengkodifikasinya dengan presisi yang hampir kejam.

Miranda Priestly, yang dimainkan Meryl Streep dengan ekonomi ekspresi yang menakjubkan, hampir selalu mengenakan putih atau abu-abu — warna yang secara tradisional diasosiasikan dengan kelemahan atau kekosongan, tetapi di tangannya terasa seperti manifestasi kekuatan absolut. Pakaian Miranda tidak pernah berseru. Mereka menyatakan. Ada sebuah momen ketika ia mengenakan jubah mandi di hotel dan entah bagaimana masih terasa seperti orang paling berkuasa di ruangan itu — dan itu adalah pencapaian kostum, bukan sekadar akting. Field bekerja langsung dengan Chanel, Valentino, Dior, dan Prada untuk mendapatkan potongan yang tepat, meminjam dari arsip-arsip rumah mode untuk menciptakan wardrobe yang terasa seperti dokumen sejarah fashion.

Yang paling halus dalam keseluruhan costume design ini adalah bagaimana pakaian Emily, asisten pertama Miranda, berfungsi sebagai mirror yang terdistorsi dari Andy. Emily menginginkan fashion dengan cara yang hampir religius — dan pakaiannya mencerminkan ambisi tanpa kritisisme diri: terlalu impeccable, terlalu curated, seolah-olah ia takut satu benang yang salah akan menghancurkan ilusi yang telah ia bangun. Sementara Andy, pada pertengahan film, mulai mengenakan pakaian yang lebih baik tetapi dengan cara yang lebih santai — seolah-olah pakaian mahal telah menjadi bahasa kedua yang ia kuasai tanpa benar-benar mencintainya. Field mengerti bahwa cara seseorang mengenakan pakaian sama pentingnya dengan pakaian itu sendiri.

The Devil Wears Prada sering diperlakukan sebagai guilty pleasure — film yang kita nikmati sambil merasa sedikit dangkal karenanya. Tetapi sebagai dokumen fashion dan kekuasaan, ia jauh lebih serius dari yang biasanya diakui. Field menggunakan pakaian untuk mempertanyakan apakah ada perbedaan mendasar antara mengenakan fashion karena Anda mencintainya dan mengenakan fashion karena Anda ingin menjadi seseorang yang berbeda. Andy akhirnya melepaskan Chanel-nya dan kembali ke dirinya sendiri — tetapi apakah kita benar-benar percaya ia tidak merindukan gaun-gaun itu? Field, dengan bijaksana, tidak memberikan jawaban.