KembaliFilm Essay

Fleabag: Ketika Monolog Menjadi Sebuah Mahakarya

Phoebe Waller-Bridge mengubah rasa sakit, kecanggungan, dan duka menjadi komedi paling jujur yang pernah muncul di layar kaca. Fleabag bukan sekadar serial — ia adalah pengakuan.

Editorial Tavania8 Mei 2026

Fleabag dimulai dengan sebuah kebohongan. Bukan kebohongan dalam plotnya — meskipun ada banyak — tetapi kebohongan yang lebih halus: cara karakter utamanya, yang tidak pernah diberi nama lain selain Fleabag, menatap kamera dan mengajak kita masuk ke dalam hidupnya dengan nada seorang perempuan yang sepenuhnya memegang kendali atas ceritanya sendiri. Kita percaya kepadanya karena ia lucu, karena ia cerdas, karena ia tampak seperti teman yang ingin kita miliki. Phoebe Waller-Bridge, yang menulis dan membintangi serial BBC ini yang pertama kali tayang pada 2016, tahu bahwa kepercayaan itu adalah perangkap. Dan ia merancang seluruh musim pertama sebagai konstruksi yang hati-hati dari sebuah duka yang tidak bisa diakui — bahkan kepada kita, bahkan kepada dirinya sendiri.

Teknik direct address — memecah tembok keempat, berbicara langsung kepada penonton — bukanlah penemuan Fleabag. Deadpool melakukannya sebagai lelucon meta, House of Cards melakukannya sebagai konfesi kekuasaan. Tetapi Waller-Bridge menggunakannya untuk sesuatu yang berbeda: keintiman sebagai mekanisme pertahanan. Fleabag bercerita kepada kita bukan karena ia mau jujur, tetapi karena berbicara kepada penonton yang tidak nyata adalah satu-satunya cara ia bisa berbicara sama sekali. Setiap kali ia berpaling dari seseorang dalam hidupnya untuk menatap kita — dengan ekspresi yang campuran antara kemenangan ironis dan kesedihan yang tak bisa diucapkan — kita menyadari bahwa kita adalah cermin yang ia gunakan karena semua cermin yang lain terlalu menyakitkan untuk dilihat.

Musim kedua mengubah segalanya dengan satu detail kecil yang genial: Hot Priest melihat ke kamera. Dalam dunia Fleabag, kamera adalah miliknya — ruang pribadinya, tempat ia lari ketika realitas menjadi terlalu besar. Ketika Andrew Scott, dalam perannya sebagai imam yang luar biasa dalam segala hal yang membuatnya tidak mungkin dicintai, mengikuti pandangan matanya dan juga melihat ke arah yang sama, itu bukan sekadar moment romantis. Itu adalah seseorang yang melihat bahwa ia menyembunyikan diri, dan memilih untuk tidak berpura-pura tidak melihat. Tidak ada adegan dalam televisi kontemporer yang lebih efisien dalam menyampaikan jatuh cinta — bukan sebagai perasaan yang menyenangkan, tetapi sebagai pengalaman menakutkan dari dilihat sepenuhnya.

Yang membuat Fleabag bertahan sebagai karya sastra — dan itu adalah kata yang tepat, bukan hyperbole — adalah bahwa ia tidak pernah memilih antara komedi dan tragedi. Kedua-duanya ada secara simultan, seperti dalam kehidupan nyata, dan Waller-Bridge menolak untuk memberikan kelegaan kepada penonton dengan memisahkan keduanya. Musim pertama berakhir dengan pengungkapan yang mengubah cara kita melihat seluruh musim itu — bahwa rasa bersalah, bukan hanya duka, adalah yang menghantui Fleabag. Musim kedua berakhir dengan penolakan yang paling menyayat hati dalam memori televisi baru-baru ini: bukan penolakan yang kejam, tetapi penolakan yang datang dari cinta yang terlalu besar untuk menjadi sesuatu yang bisa dimiliki.

Scene terakhir Fleabag adalah ia berjalan sendirian, melambaikan tangan kepada kamera — kepada kita — dan untuk pertama kalinya kita menyadari bahwa ia tidak akan lagi berpaling kepada kita. Ia tidak membutuhkan kita lagi, atau mungkin ia telah memutuskan bahwa ia harus belajar tidak membutuhkan kita. Itu adalah perpisahan yang halus dan menghancurkan sekaligus. Waller-Bridge tidak memberikan resolusi; ia memberikan sesuatu yang lebih jujur — transformasi kecil, hampir tidak terlihat, yang mungkin atau mungkin tidak berlangsung. Fleabag tidak mengubah apa yang televisi bisa ceritakan; ia mengubah bagaimana kita percaya bahwa cerita itu bisa disampaikan.