Lady Bird: Surat Cinta untuk Kota yang Tidak Kita Pilih
Greta Gerwig menulis dan menyutradarai film yang terasa seperti membaca buku harian sendiri — menyakitkan, lucu, dan sangat, sangat jujur tentang apa artinya menjadi muda.
Sacramento bukan kota yang biasanya muncul dalam film dengan cara yang terhormat. Ia bukan New York atau Paris atau Los Angeles — bukan tempat di mana hal-hal penting tampaknya terjadi, bukan tempat yang memiliki mitologi sinematik yang sudah ada sebelumnya. Itu mungkin adalah alasan utama mengapa Greta Gerwig memilihnya sebagai latar Lady Bird (2017): bukan meskipun ketidakistimewaannya, tetapi karena itu. Sacramento adalah kota yang harus kamu cintai dengan susah payah, bukan kota yang menawarkan cintanya dengan mudah — dan itulah yang membuat hubungan Christine McPherson dengan tempat kelahirannya menjadi analog yang sempurna untuk hampir semua hal lain dalam hidupnya.
Christine, yang menamai dirinya sendiri Lady Bird sebagai tindakan kecil pemberontakan yang jauh lebih serius dari yang tampaknya, adalah karakter remaja yang menolak sentimentalitas bahkan ketika — terutama ketika — ia sangat membutuhkan seseorang untuk menjadi sentimental tentangnya. Penamaan diri sendiri adalah gestur filosofis yang nyata — sebuah klaim bahwa identitas bisa dipilih, tidak hanya diwarisi. Tetapi film itu cukup jujur untuk menunjukkan bahwa identitas yang dipilih juga bisa menjadi pelarian dari yang diwarisi, dan pelarian bukan selalu kebebasan.
Hubungan antara Lady Bird dan ibunya, Marion, adalah jantung film yang tidak pernah berhenti berdetak bahkan dalam momen yang paling tidak berhubungan langsung dengannya. Marion mencintai putrinya dengan intensitas yang tidak tahu bagaimana menjadi lembut — cintanya adalah kritik, adalah kekhawatiran, adalah standar tinggi yang tidak bisa dilonggarkan karena melonggarkannya terasa seperti pengkhianatan terhadap apa yang diinginkannya untuk Lady Bird. Laurie Metcalf memainkan Marion dengan cara yang menolak untuk menjadikannya antagonis sederhana: ini adalah perempuan yang telah bekerja keras sepanjang hidupnya untuk memberi putrinya pilihan yang tidak pernah ia miliki, dan tidak bisa memahami mengapa hadiah itu tampak seperti beban bagi si penerima.
Yang paling berani dalam Lady Bird adalah apa yang Gerwig pilih untuk tidak lakukan. Tidak ada momen katarsis besar, tidak ada konfrontasi dramatis yang menyelesaikan segalanya, tidak ada adegan di mana semua orang akhirnya mengatakan apa yang mereka rasakan dengan jelas dan lengkap. Film ini bergerak melalui akumulasi momen kecil — makan malam yang canggung, tur kampus yang mengharukan, ciuman pertama yang mengecewakan, kebohongan yang tidak perlu — dan mempercayai penonton untuk mengenali dalam detail-detail itu kebenaran tentang bagaimana kehidupan sebenarnya bekerja. Gerwig memahami bahwa kekhususan adalah jalan menuju universalitas: semakin spesifik sebuah cerita tentang satu orang dan satu tempat, semakin banyak orang yang akan mengenali diri mereka di dalamnya.
Scene terakhir Lady Bird — mengemudi sendirian di jalan raya California, akhirnya jauh dari Sacramento, dan tiba-tiba menelepon ibunya untuk mengucapkan terima kasih atas nama yang diberikan kepadanya — adalah salah satu ending paling sempurna dalam sinema kontemporer bukan karena ia mengubah segalanya, tetapi karena ia tidak mengubah apa pun dan mengubah segalanya sekaligus. Lady Bird tidak menyelesaikan hubungannya dengan ibunya. Ia tidak menyelesaikan hubungannya dengan Sacramento. Tetapi ada sesuatu yang bergeser — sebuah pengakuan kecil bahwa mencintai tempat yang memenjarakan kamu dan orang yang tidak bisa memahami kamu adalah hal yang sangat manusiawi, dan bahwa kedewasaan bukan tentang meninggalkan masa lalu tetapi tentang belajar membawanya dengan cara yang berbeda.