Parasite: Arsitektur Ketidaksetaraan dalam Setiap Frame
Bong Joon-ho tidak sekadar menceritakan kelas sosial — ia membangunnya secara literal. Tangga, lantai bawah, dan langit-langit menjadi metafora yang berdarah.
Sebelum ada satu dialog pun diucapkan dalam Parasite, arsitektur sudah berbicara. Keluarga Kim tinggal di semi-basement — bukan basement penuh, yang setidaknya memiliki kejujuran untuk berada sepenuhnya di bawah tanah, tetapi sebuah ruang liminal yang setengah di bawah permukaan tanah dan setengah di atasnya. Jendela mereka menghadap ke trotoar; sudut pandang mereka terhadap dunia adalah pergelangan kaki orang yang lewat dan sesekali seseorang yang memilih untuk buang air kecil di depan mereka. Bong Joon-ho dan desainer produksinya, Lee Ha-jun, menghabiskan dua tahun merancang rumah keluarga Park dengan satu tujuan yang sangat spesifik: setiap elemen arsitekturnya harus menjadi pernyataan tentang kekuasaan yang tidak perlu diucapkan.
Tangga dalam Parasite bukan sekadar elemen struktural; ia adalah peta moral. Keluarga Kim selalu bergerak ke bawah — turun ke semi-basement mereka, turun ke ruang bawah tanah rahasia yang tersembunyi di balik dinding rumah Park, turun ke posisi metaforis yang semakin jauh dari cahaya. Keluarga Park tinggal di atas: rumah mereka berada di bukit, ruang tamunya tinggi, bahkan area rekreasi anak mereka secara fisik lebih dekat ke langit. Ini adalah sinema yang memperlakukan ruang dengan cara yang biasanya hanya dilakukan dalam teater — sebagai bahasa yang kita baca tanpa sadar, yang bekerja pada level di bawah narasi. Bong tidak perlu memberitahu kita siapa yang berkuasa; ia cukup menunjukkan kita siapa yang perlu menaiki tangga.
Elemen yang paling cerdas dalam Parasite mungkin adalah penggunaan bau. Sementara segalanya yang berhubungan dengan kelas bisa dipalsukan — pendidikan, aksen, pakaian, sopan santun — bau tidak bisa dibeli. Pak Park, dengan ketidaksengajaan yang mengungkapkan, beberapa kali berkomentar tentang bau Pak Kim. Bukan dengan kejam; justru itulah yang membuatnya lebih menyakitkan. Ia berkomentar seperti seseorang yang mencatat sebuah fakta objektif, dengan cara yang sama ia mungkin berkomentar tentang cuaca. Bau adalah satu-satunya penanda kelas yang tidak tunduk pada aspirasi atau kapital sosial — dan dalam film yang seluruhnya tentang perlombaan untuk menempati posisi yang sama, ia menjadi tembok yang tidak bisa ditembus.
Bong memulai Parasite sebagai dark comedy, mengundang kita untuk menikmati kecerdasan dan keberanian keluarga Kim dengan cara yang hampir penuh kekaguman. Kemudian, secara perlahan, tanpa tanda peringatan yang jelas, register bergeser. Komedi menjadi thriller. Thriller menjadi sesuatu yang lebih gelap — sebuah tragedi tentang bagaimana sistem yang tidak adil tidak menghancurkan orang jahat, tetapi orang yang putus asa. Yang paling mengganggu bukanlah kekerasan di akhir film, tetapi kesadaran bahwa tidak ada satu karakter pun dalam film ini yang benar-benar jahat. Mereka semua hanya mencoba bertahan dalam sistem yang dirancang untuk hanya menyediakan ruang yang cukup bagi sedikit orang saja.
Ketika Parasite memenangkan Palme d'Or di Cannes dan kemudian Best Picture di Academy Awards — menjadi film berbahasa non-Inggris pertama yang melakukannya — ada kecenderungan untuk membahasnya sebagai tonggak representasi. Tetapi yang lebih penting adalah apa yang dipilih Academy untuk merayakan: bukan film yang menawarkan harapan atau solusi, tetapi film yang dengan presisi bedah mendiagnosis cara kapitalisme membuat orang miskin bersaing dengan orang miskin lainnya sambil orang kaya tidur nyenyak di lantai atas. Bahwa film Korea Selatan tentang ketidaksetaraan kelas harus memenangkan penghargaan film tertinggi di Amerika Serikat adalah ironi yang, jika Bong menulisnya sebagai fiksi, akan terasa terlalu pas untuk menjadi nyata.