Review: Dilan ITB 1997 Hadirkan Nostalgia Baru
Sekuel terbaru franchise Dilan membawa cerita ke ranah yang lebih dewasa.
Film Dilan ITB 1997 berhasil memberikan perspektif baru yang matang pada franchise yang telah mencuri hati jutaan penonton Indonesia. Berbeda dari dua film sebelumnya yang berfokus pada romansa remaja dengan segala keceriaan dan impulsivitasnya, Dilan ITB 1997 mengeksplorasi dinamika hubungan dewasa dengan segala kompleksitas, tanggung jawab, dan jarak yang mau tidak mau hadir ketika dua orang beranjak dari remaja menjadi manusia dewasa yang memiliki dunianya masing-masing.
Sinematografi film ini adalah lompatan besar yang perlu dicatat secara khusus. Nuansa visual yang lebih gelap dan bernuansa nostalgia akhir 1990-an — arsitektur kampus ITB yang otentik, detail pakaian era tersebut, cara tertentu cahaya jatuh di sore hari Bandung — menambah kedalaman yang belum pernah ada di seri sebelumnya. Ada momen di mana film terasa seperti photo album yang bergerak, bukan hanya cerita yang bergerak maju.
Iqbaal Ramadhan tampil lebih matang dan nuansatif dalam perannya sebagai Dilan dewasa. Ia berhasil menjaga esensi karakter yang sudah dicintai jutaan orang tanpa terjebak dalam nostalgia yang kaku — Dilan-nya adalah orang yang sama tetapi telah diubah oleh waktu, bukan karakter yang dibeku dalam kenangan. Ini adalah pilihan akting yang berani dan terbayar.
Meski beberapa penggemar lama mungkin merindukan keceriaan dan spontanitas film pertama, Dilan ITB 1997 adalah evolusi yang berani dan perlu. Franchise yang hanya mengulangi formula pertamanya akan mati dengan perlahan; franchise yang berani tumbuh bisa hidup melampaui generasinya. Film ini memilih untuk tumbuh, dan itulah yang membuatnya layak ditonton bahkan oleh mereka yang belum pernah mengenal Dilan sebelumnya.