KembaliFashion

Valentino dan Bahasa Keindahan yang Tak Pernah Usang

Selama 45 tahun, Valentino Garavani membangun kerajaan couture yang berdiri di atas satu keyakinan: keindahan sejati tidak perlu mengikuti tren, karena ia mendefinisikannya.

Editorial Tavania28 April 2026

Valentino Garavani pernah berkata bahwa ia tidak pernah merancang untuk tren. Ia merancang untuk perempuan — perempuan spesifik yang ia bayangkan berjalan masuk ke dalam ruangan dan mengubah gravitasi di dalamnya. Pernyataan itu terdengar seperti klise dari seorang couturier yang sudah terlalu terbiasa dengan wawancara, tetapi jika Anda melihat arsip rumah yang ia dirikan di Roma pada 1960, Anda menyadari bahwa ia serius. Selama hampir setengah abad, Valentino membangun sebuah bahasa visual yang tidak pernah benar-benar membutuhkan konteks budaya atau momen tertentu untuk dipahami — keindahannya adalah semacam universal grammar yang hanya perlu dibaca, tidak diterjemahkan.

Invensi Valentino Red adalah momen yang terdengar seperti mitos tetapi terjadi dengan cara yang mengejutkan sederhana: ia melihat warna itu di buket bunga di sebuah opera di Barcelona dan memutuskan bahwa itu adalah warna yang harus ia miliki sepenuhnya. Merah Valentino — bukan merah biasa, tetapi merah yang spesifik, mendalam, hampir seperti anggur yang dibakar — menjadi identitas visual yang lebih kuat dari monogram manapun. Jackie Kennedy mengenakan Valentino untuk pemakaman Senator Robert Kennedy. Audrey Hepburn, yang terkenal setia pada Givenchy, mempercayakan sebagian hidupnya yang paling terdokumentasi pada Valentino. Dalam dunia couture yang diisi dengan aspirasi keanggunan, Valentino entah bagaimana menciptakan keanggunan itu sendiri — bukan representasinya, tetapi substansinya.

Dokumentasi Matt Tyrnauer, The Last Emperor (2008), menangkap sesuatu yang jarang berhasil difilmkan: kerentanan seorang seniman di penghujung era ciptaannya sendiri. Koleksi perpisahan Valentino di Paris pada 2008 — setelah konflik berkepanjangan dengan pemilik baru Permira — adalah sebuah requiem yang dibuat dari tulle dan bordir. Ada sesuatu yang mengharukan dalam cara film itu merekam Valentino melihat gaun-gaunnya berjalan di runway untuk terakhir kali: seorang pria yang telah menghabiskan hidupnya membuat perempuan tampak luar biasa, kini harus melihat era itu berakhir bukan karena ia kehabisan ide tetapi karena dunia telah berubah di sekelilingnya.

Pierpaolo Piccioli, yang mengambil alih sebagai creative director setelah kepergian Valentino dan Maria Grazia Chiuri, menghadapi tantangan yang hampir mustahil: menjaga rumah yang identitasnya sangat personal tanpa menjadi sekedar arsivist. Yang ia lakukan, dan lakukan dengan brilian, adalah memperlebar definisi "Valentino" tanpa menghancurkan fondasinya. Ia memasukkan warna yang sebelumnya tidak terbayangkan — hitam yang intens, pink yang hampir meneriaki dirinya sendiri, nude yang filosofis. Ia mengundang kolaborasi dengan seniman dan aktivis. Tetapi yang paling penting, ia mempertahankan keyakinan dasar bahwa couture bukan tentang kemewahan sebagai status, tetapi tentang kerajinan sebagai argumen moral.

Ada pertanyaan yang sering muncul dalam diskusi tentang couture di era demokratisasi fashion: untuk apa semua ini? Untuk siapa gaun yang membutuhkan dua ribu jam kerja tangan, yang hanya akan dikenakan sekali, yang harganya setara dengan pendidikan universitas? Valentino, baik sebagai pendiri maupun sebagai warisan yang hidup, memberikan jawaban yang tidak mencoba membenarkan dirinya sendiri secara ekonomi. Couture adalah resistensi terhadap ketergesa-gesaan. Ia adalah pernyataan bahwa keindahan layak untuk dikejar bahkan ketika tidak praktis, bahkan ketika tidak efisien, bahkan ketika dunia yang bergerak cepat tidak memiliki waktu untuk melihatnya. Dalam pengertian itu, Valentino bukan sekadar rumah mode — ia adalah manifesto tentang mengapa keindahan itu penting.